Batik Lasem

Batik Lasem

Batik lasem rembang adalah batik yang mempunyai motif dan ciri khas tertentu yang membedakan antara batik lainnya di seluruh tanah air. Nama Lasem adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Indonesia. Merupakan kota terbesar kedua di Kabupaten Rembang setelah kota Rembang. Lasem dikenal juga sebagai “Tiongkok kecil” karena merupakan kota awal pendaratan orang Tionghoa di tanah Jawa dan terdapat perkampungan tionghoa yang sangat banyak. Di Lasem juga terdapat patung Buddha Terbaring yang berlapis emas. Kerajinan Batik Lasem sangat terkenal sejak lama yang diperkirakan telah ada sejak tahun 1413 batik lasem rembang ini cepat terkenal karena cirinya sebagai batik pesisir yang indah dengan pewarnaan yang berani atau mencolok. batik lasem rembang sangat diminati para kolector batik tingkat dunia dan akhir-akhir ini para pengusaha batik telah melakukan beberapa pameran seperti di Jakarta di MT Thamrin, JCC. Grand Indonesia DLL untuk melihat lebih jelasnya batik lasem Rembang Silahkan anda Kunjungi Sentra Batik Lasem
Add to Cart
Klenteng Gie Yong Bio

Klenteng Gie Yong Bio

Klenteng Gie Yong Bio klenteng Gie Yong Bio, sebuah tempat peribadatan yang sudah dikenal sejak tahun 1780. Saya merasakan sendiri bagaimana interaksi warga keturunan Tionghoa yang begitu membaur dengan orang-orang pribumi. Klenteng ini disebut sebagai bangunan penghargaan atas pahlawan mereka. Oei Ing Kiat, Panji Margono dan Tan Kee Wie. Tembok tinggi, dengan ukiran megah yang mengelilingi, menandakan bagaimana rakyat begitu menghormati pejuangnya. Begitu juga dengan lampion-lampion meriah yang menggelayut di bagian atas tiang dan atapnya.
Add to Cart
Jejak Sunan Bonang Di Kabupaten Rembang

Jejak Sunan Bonang Di Kabupaten Rembang

Jejak Sunan Bonang Di Kabupaten Rembang Sunan Bonang atau Maulana makdum Ibrahim putra Sunan Ampel lahir tahun 1466 ,salah satu anggota walisongo yang cukup dikenal kalangan masyarakat jawa.Petilasan dakwah sunan Bonang tersebar luas disejumlah daerah diantaranya kawasan Lasem,kab Rembang ini sesungguhnya menarik dijelajahi sekaligus berwisata religi.Perjalanan sejarah sunan Bonang mulai dilakukan ketika kerajaan Demak dikuasai oleh sultan Trenggono dan semenjak itulah Ia memutuskan untuk melakukan kegiatan dakwah disejumlah daerah diantaranya desa Bonang,kec bonang,Rembang.Didesa ini Ia membangun masyarakat desa Bonang melalui sebuah pondok pesantren sederhana bernama watu layar yang jumlah murid-muridnya waktu itu cukup banyak berasal dari Lasem dan sekitarnya.Pondok pesantren yang Ia bangun tidak beda jauh dengan pondok pesantren denta milik ayahnya dan pondok pesantren ini tidak saja menggelar pengajian,mengaji,belajar beragam ilmu pengetahuan,seni suluk,serta mengadakan kegiatan ekonomi rakyat yakni membuat terasi berbahan dasar udang sebagaimana kerajinan masyarakat bonang saat ini .Sunan bonang dalam mengajarkan ilmu pengetahuan banyak mengacu pada fiqh,tasawuf tak heran Ia memiliki karomah yang unik sebagaimana yang dialami oleh salah satu utusan kerajaan Majapahit bernama bendera .Peristiwa itu berawal dari suara senandung murid sunan bonang bernama bendera yang dikira suara bende oleh sunan Bonang hingga akhirnya orang tersebut menjelma menjadi bende.Bende ini kemudian dijadikan sebagai sarana menyebarkan ajaran Islam oleh walisongo melalui perangkat musik gamelan yang dinamakan bonang .Alat musik bonang ini sunan Bonang mampu menciptakan aneka seni baik gamelan yang dipadu alat musik lain dipentaskan pada pagelaran wayang juga Ia ciptakan sendiri .Selain wayang sunan Bonang juga menciptakan seni suluk yang cukup populer tembang tombo ati. Menariknya setiap tahun digelar tradisi penjamasan bende bendera didesa Bonang .Perjalanan dakwah sunan Bonang yang disejumlah daerah di Lasem ,tuban dan daerah lainnya sampai Ia meninggal membuat tempat makam sunan Bonang pun berada dibeberapa tempat yang berbeda.Hal ini terjadi diduga akibat ulah kolonial Belanda yang berusaha menghilangkan jejak sejarah sunan Bonang.Makam sunan Bonang versi di tuban tepatnya dibelakang masjid Tuban kemudian muncul makam versi didesa Bonang terletak dikomplek bekas pesantren dekat pantai.Makam sunan Bonang didesa Bonang sederhana bukan berbentuk nisan,tetapi ditandai 2 batu nisan dan bunga melati,uniknya dekat makam ini dijumpai tapak batu diduga bekas pasujudan sunan Bonang kemudian tidak jauh dari makam juga terdapat situs sumur yang dipakai sunan bonang serta sebuah masjid .Menariknya dikawasan Lasem rumah Sunan bonang masih bisa ditemukan kondisinya terawat dengan baik dan arsitektur bangunannya unik khas rumah cina mengingat Ia keturunan campa .Perjalanan atau jejak sejarah sunan Bonang dikota Lasem sesungguhnya kalau ditelusuri lebih jauh jumlahnya cukup banyak yang dapat ditemukan dan digali kembali dipelosok Lasem mengingat Sunan Bonang menetap cukup didesa ini.Perjalanan dakwah sunan Bonang dikota menjadi refleksi sejarah tentang perjalanan sejarah seorang walisongo yang rendah hati dengan terjun ke tengah masyarakat Lasem dalam metode dakwah yang unik khas sunan Bonang menciptakan gamelan bonang serta seni suluk kesemuanya memberi warna baru dalam perjalanan dakwah di Indonesia.Perjalanan dakwah sunan Bonang di Lasem seakan mengingatkan kembali perjuangan Sunan Bonang dalam menyebarkan ajaran Islam walau tidak sedikit halangan dan rintangan yang Ia temui saat melakukan perjalanan dakwahnya,tetapi disisi lain mampu membukakan pola pikir maupun pola hidup masyarakat Lasem tidak saja memberi ilmu pengetahuan agama ,tetapi juga ketrampilan yang kini menjadi mata pencaharian masyarkat desa Lasem yakni membuat petis terasi sehingga sudah layaknya bila Sunan Bonang sebagai anggota Walisongo.
Add to Cart
Terasi Lasem

Terasi Lasem

Terasi Lasem Di desa Bonang sendiri para penduduknya memproduksi terasi yang memiliki kwalitas super. Para pembuat masih menjaga kwalitas trasinya untuk para pembeli tetap berminat dengan terasi lokal serta menarik para wisatawan untuk mengkonsumsi terasi buatan lasem.
Add to Cart
Hasil Laut Rembang

Hasil Laut Rembang

Hasil Laut Rembang Desa Tasikagung adalah desa sentra perikanan laut di Kabupaten Rembang. Di desa Tasikagung inilah dermaga/pelabuhan kapal perikanan Rembang dan Tempat Pelelangan Ikan dibangun. Pembangunan masih terus dilakukan dengan meningkatkan fasilitas sarana dan prasarana untuk mengoptimalkan hasil komoditas perikanan laut yang mampu menyumbangkan devisa bagi Kabupaten Rembang. Transportasi : Dilalui jalur Pantura. Desa Tasikagung merupakan desa pesisir, dilalui/sebelah utara jalur pantura dengan batas-batas wilayah meliputi : • Disebelah Utara merupakan laut jawa • Disebelah Timur merupakan Pantai Kartini yang sekarang menjadi Dampo Awang Beach, • Disebelah Barat merupakan Desa Tanjungsari yang dibatasi oleh sungai Karanggeneng • Disebelah selatan merupakan Desa Sumberjo.
Add to Cart
Kelenteng Cu An Kiong

Kelenteng Cu An Kiong

Kelenteng Cu An Kiong Kecamatan di pesisir utara Jawa yang dikenal dengan julukan Tiongkok Kecil itu bermimpi menjadikan Lasem sebagai Kota Pusaka Dunia pertama di Indonesia. Forum Komunikasi Masyarakat Sejarah (Fokmas) Lasem dan Rembang Heritage Society merupakan motor dari impian besar tersebut. Para penggiatnya rela mencurahkan ide, pikiran, tenaga hingga dana untuk mengejar cita-cita Heritage City. Saya pun merasa beruntung mendapat kesempatan berbincang dan bertukar pikiran dengan beberapa sosok hebat di balik dua komunitas tersebut. Ada Pak Toro, Pak Yono dan Mas Pop. Untuk menggapai status Kota Pusaka Dunia, para motor Fokmas dan Rembang Heritage Society tak sekadar berpangku tangan. Kerja keras Fokmas dimulai dengan mengumpulkan data sejarah dan budaya Lasem, membangkitkan kembali kesenian rakyat, mengangkat batik Lasem dan menggandeng para tokoh masyarakat setempat. Beberapa kegiatan juga sudah digelar, di antaranya jelajah pusaka Lasem yang diikuti masyarakat setempat dan luar kota. Mereka juga melakukan kampanye pelestarian pusaka lasem di Radio Maloka dan melakukan pendampingan terhadap mahasiswa, peneliti dan penulis yang riset di Lasem. Luar biasa! Mas Pop menguraikan Lasem berani bermimpi tinggi karena memiliki potensi heritage yang lengkap. Secara arkeologi Lasem sedang dalam proses menjadi Kawasan Cagar Budaya. Itu akan menjadi salah satu modal Lasem untuk menjadi Kota Pusaka Dunia. Di tingkat nasional, mereka bermitra jejaring dengan BPPI Badan Pelestarian Pusaka Indonesia dan Organisasi-organisasi Pelestari di Seluruh Indonesia. “Jadi kota pusaka dunia bukan untuk menarik wisatawan, tetapi pengelolaan kawasan heritage agar tetap lestari dan meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya lewat pelestarian dan pengembangan. Wisatawan itu hanya efek lanjut,” beber Mas Pop. Langkah masyarakat Lasem meraih impiannya jelas masih jauh dari garis finis. Butuh dukungan penuh dari pemerintah setempat untuk meringankan langkah. Tapi setidaknya mereka sudah berani berjuang. Semoga suatu saat nanti mimpi itu benar-benar terelasasi.
Add to Cart
Tempat Petilasan Sunan Bonang

Tempat Petilasan Sunan Bonang

Tempat Petilasan Sunan Bonang Tempat wisata di Rembang selanjutnya berupa petilasan atau diyakini masyarakat sebagai tempat beristirahatnya Sunan Bonang, salah satu Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Tempat wisata ini terletak 17 km dari Lasem. Sebagai seorang wali besar maka tempat ini sangat ramai dikunjungi para peziarah agar mereka mendapat ketentraman rohani yang lebih jika mengunjungi tempat petilasan Sunan Bonang.
Add to Cart
Pantai Kartini

Pantai Kartini

Pantai Kartini Pantai Kartini menjadi salah satu tempat wisata di Rembang yang berada di daerah pesisir dengan kebudayaan lokal yang kental. Nama Pantai Kartini tidak hanya ada di Jepara, di Rembang pun ada Pantai Kartini. Pantai ini selain dapat digunakan sebagai sarana bermain, juga menjadi tempat upacara adat yang sering dilakukan oleh masyarakat sekitar. Contoh upacara adat adalah Lomban, yaitu sebuah tradisi masyarakat setelah Hari Raya Idul Fitri dengan mengirimkan hasil panen mereka untuk laut guna memperoleh keselamatan dalam mencari ikan. Sedangkan untuk para wisatawan juga ada upacara khusus yang diperuntukkan agar wisatawan memperoleh kenangan selama menjelajahi tempat wisata di Rembang.
Add to Cart
Pantai Caruban Lasem

Pantai Caruban Lasem

Pantai Caruban Lasem Sebuah pantai yang belum banyak diketahui orang dan menjadi tempat wisata di Rembang yang masih asri dan natural. Akses jalan ke pantai Caruban sangatlah mudah, bisa menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Memang keadaan pantai ini tidak memiliki pasir putih yang menjadi daya tarik pantai lainnya di Indonesia, tapi keadaan pantai dengan pesisir yang landai membuat anda bisa bermain ombak yang sangat bersahabat. Dan juga daerahnya yang masih natural, masih banyak pepohonan yang membuat pantai ini menjadi sejuk dan tidak panas. Deretan hutan pinus dan hutan mangrove akan memanjakan mata anda jika berkunjung ke pantai Caruban Lasem
Add to Cart
Makam R.A. Kartini

Makam R.A. Kartini

Makam Raden Ajeng Kartini Raden Ajeng Kartini lahir di Desa Mayong, Kabupaten Jepara, 21 April 1879 adalah putri ke 2 dari 5 bersaudara, pasangan Raden Mas Adipati Aryo Samingun Sosroningrat, Bupati Jepara (1880-1905) dengan ibu Mas Ajeng Ngasirah Kartini hidup dikalangan bangsawan feodal ting gi, yang tidak sesuai dengan cita-citanya yg luhur dan demokratis. Keluarga memberi ijin kepada Kartini masuk sekolah dasar Belanda ( EuropescheLagereSchool) di Jepara, sehingga beliau menjadi pandai berbahasa Belanda. Dari sinilah kemudian Kartini berkenalan dengan teman-teman dan berkenalan pula dengan alam hidup barat. Betapa jauh perbedaan kedudukan wanita barat dengan wanita Jawa. Dari situlah ia sadar wanita bangsawan harus membimbing kaumnya kearah kemajuan. Hasrat ingin melanjutkan sekolah ke Semarang atau Betawi terhalang oleh adat yang mengharuskan ia di “pingit” karena usianya telah 12 tahun. Dalam masa pingitan ini ia melanjutkan cita-citanya mendirikan sekolah untuk anak-anak para priyayi. Pada masa inilah ia menulis surat untuk kenalannya di negeri Belanda tempat ia mencurahkan suka duka , hingga berakhir ketika ia dipinang Raden Adipati Aryo Djojohadiningrat Bupati Rembang 8 Nopember 1903. Di Rembang ia tetap melanjutkan cita-citanya mengajar bagi anak-anak priyayi di Rembang. Lebih kurang 1 tahun setelah menikah, dan 5 hari sesudah melahirkan putra pertamanya, Kartini dipanggil pulang ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa 17 September 1904 dalam usia 25 tahun. Almarhum dimakamkan di makam keluarga di Desa Bulu sekitar 22 Km sebelah selatan Rembang. Makam Kartini yang berjada di Desa Bulu dengan jarak tempuh sekitar 17,5 kilometer dari kota Rembang ke selatan jurusan Blora. Selain makam Kartini, di kompleks makam juga terdapat makam keluarga Bupati Rembang Djojo Adiningrat dan putra R.A Kartini satu-satunya RM Soesalit, serta keturunan keluarga bupati rembang tersebut. Makam Kartini berada di tengah-tengah makam yang lainnya bersama istri pertama Djojo Adiningrat yang bernama Soekarmilah Djojo Adiningrat serta anak istri dari keduanya yang bernama Srioerip Djojo Adiningrat dan terdapat pagar khusus untuk ketiga makam tersebut. Alasan anak tersebut dimakamkan di lokasi tersebut karena orang tuanya sebagai keturunan keraton Solo ketika meninggal tidak boleh dimakamkan di luar keraton. Sebagai gantinya, yang dimakamkan adalah anaknya. Sedangkan makam Djojo Adiningrat berada paling ujung dan berukuran paling besar dibandingkan makam yang lainnya. Sementara makam semata wayang R.A Kartini yang bernama Soesalit Djojo Adiningrat berada di luar pagar ketiga makam tersebut. Setiap bulan April puluhan ribu pengunjung berziarah ke Makam R.A Kartini yang dihiasai dengan marmer asli dari Italia. Fasilitas yang tersedia di lokasi obyek ini, yakni area parkir yang luas, mushalla, bumi perkemahan, dan warung cinderamata. Cita-cita R.A. Kartini yang amat luhur terungkap jelas setelah Mr. J.H. Abendanon bekas Direktur Departemen Pengajaran Hindia Belanda dalam tahun 1911 menerbitkan buku berjudul Door Duisternis tot Licht, lalu diterjemah kan oleh Balai Pustaka Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku itu berisi himpunan surat-surat Kartini kepada sahabat-sahabatnya di negeri Belanda, ditulis dari tahun 1900 – 1904 ketika ia dalam masa pingitan. Salah satu kalimat dalam buku tersebut berbunyi : “… Wij willen voor ons vole werken, het met helpen opvoeden, op heffen tot hooger zedelijk standpunt om zoo te komen tot beter, gelukkige maatschappelijke toestanden…” (… kami ingin bekerja untuk bangsa kami, membantu mendidik dan memajukan mereka hingga tarap budaya yang lebih tinggi untuk sampai kepada keadaan masyarakat yang lebih baik dan berbahagia…” Makam Raden Ajeng Kartini Raden Ajeng Kartini lahir di Desa Mayong, Kabupaten Jepara, 21 April 1879 adalah putri ke 2 dari 5 bersaudara, pasangan Raden Mas Adipati Aryo Samingun Sosroningrat, Bupati Jepara (1880-1905) dengan ibu Mas Ajeng Ngasirah Kartini hidup dikalangan bangsawan feodal ting gi, yang tidak sesuai dengan cita-citanya yg luhur dan demokratis. Keluarga memberi ijin kepada Kartini masuk sekolah dasar Belanda ( EuropescheLagereSchool) di Jepara, sehingga beliau menjadi pandai berbahasa Belanda. Dari sinilah kemudian Kartini berkenalan dengan teman-teman dan berkenalan pula dengan alam hidup barat. Betapa jauh perbedaan kedudukan wanita barat dengan wanita Jawa. Dari situlah ia sadar wanita bangsawan harus membimbing kaumnya kearah kemajuan. Hasrat ingin melanjutkan sekolah ke Semarang atau Betawi terhalang oleh adat yang mengharuskan ia di “pingit” karena usianya telah 12 tahun. Dalam masa pingitan ini ia melanjutkan cita-citanya mendirikan sekolah untuk anak-anak para priyayi. Pada masa inilah ia menulis surat untuk kenalannya di negeri Belanda tempat ia mencurahkan suka duka , hingga berakhir ketika ia dipinang Raden Adipati Aryo Djojohadiningrat Bupati Rembang 8 Nopember 1903. Di Rembang ia tetap melanjutkan cita-citanya mengajar bagi anak-anak priyayi di Rembang. Lebih kurang 1 tahun setelah menikah, dan 5 hari sesudah melahirkan putra pertamanya, Kartini dipanggil pulang ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa 17 September 1904 dalam usia 25 tahun. Almarhum dimakamkan di makam keluarga di Desa Bulu sekitar 22 Km sebelah selatan Rembang. Makam Kartini yang berjada di Desa Bulu dengan jarak tempuh sekitar 17,5 kilometer dari kota Rembang ke selatan jurusan Blora. Selain makam Kartini, di kompleks makam juga terdapat makam keluarga Bupati Rembang Djojo Adiningrat dan putra R.A Kartini satu-satunya RM Soesalit, serta keturunan keluarga bupati rembang tersebut. Makam Kartini berada di tengah-tengah makam yang lainnya bersama istri pertama Djojo Adiningrat yang bernama Soekarmilah Djojo Adiningrat serta anak istri dari keduanya yang bernama Srioerip Djojo Adiningrat dan terdapat pagar khusus untuk ketiga makam tersebut. Alasan anak tersebut dimakamkan di lokasi tersebut karena orang tuanya sebagai keturunan keraton Solo ketika meninggal tidak boleh dimakamkan di luar keraton. Sebagai gantinya, yang dimakamkan adalah anaknya. Sedangkan makam Djojo Adiningrat berada paling ujung dan berukuran paling besar dibandingkan makam yang lainnya. Sementara makam semata wayang R.A Kartini yang bernama Soesalit Djojo Adiningrat berada di luar pagar ketiga makam tersebut. Setiap bulan April puluhan ribu pengunjung berziarah ke Makam R.A Kartini yang dihiasai dengan marmer asli dari Italia. Fasilitas yang tersedia di lokasi obyek ini, yakni area parkir yang luas, mushalla, bumi perkemahan, dan warung cinderamata. Cita-cita R.A. Kartini yang amat luhur terungkap jelas setelah Mr. J.H. Abendanon bekas Direktur Departemen Pengajaran Hindia Belanda dalam tahun 1911 menerbitkan buku berjudul Door Duisternis tot Licht, lalu diterjemah kan oleh Balai Pustaka Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku itu berisi himpunan surat-surat Kartini kepada sahabat-sahabatnya di negeri Belanda, ditulis dari tahun 1900 – 1904 ketika ia dalam masa pingitan. Salah satu kalimat dalam buku tersebut berbunyi : “… Wij willen voor ons vole werken, het met helpen opvoeden, op heffen tot hooger zedelijk standpunt om zoo te komen tot beter, gelukkige maatschappelijke toestanden…” (… kami ingin bekerja untuk bangsa kami, membantu mendidik dan memajukan mereka hingga tarap budaya yang lebih tinggi untuk sampai kepada keadaan masyarakat yang lebih baik dan berbahagia…”
Add to Cart
Sejarah Kabupaten Rembang

Sejarah Kabupaten Rembang

Sejarah Kabupaten Rembang Sejarah Nama Rembang Sekitar tahun Saka 1336, datanglah orang Campa Banjar mlati sebanyak delapan orang yang pandai membuat gula tebu. Orang-orang Campa itu pindah dari negerinya berangkat melalui lautan menuju ke barat hingga mendarat disekitar sungai yang kiri-kanannya ditumbuhi pohon bakau. Mereka dipimpin oleh kakek Pow Ie Din. Ketika mendarat, mereka melakukan doa dan semedi. Kemudian mereka mulai menebang pohon bakau dan diteruskan oleh yang lain. Selanjutnya tanah yang telah terbuka itu dijadikan lahan pategalan, pekarangan, perumahan, dan perkampungan. Kampung tersebut dinamakan KABONGAN berasal dari kata bakau menjadi Ka-Bonga-an. Pada suatu hari, saat fajar menyingsing pada bulan Waisaka..., orang-orang akan memulai "ngrembang" (mbabat; memangkas) tebu. Sebelum ngrembang dimulai, terlebih dahulu diadakan upacara suci sembahyang dan semedi di tempat tebu serumpun yang akan dipangkas. Upacara pemangkasan tebu ini dinamakan "Ngrembang Sakawit". Dari kata ngrembang inilah kemudian menjadi kata REMBANG sebagai nama Kota Rembang saat ini. Menurut shahibul hikayat, upacara "ngrembang sakawit" dilaksanakan pada hari Rabu Legi, saat dinyanyikan kidung, Minggu Kasadha, Bulan Waisaka, Tahun Saka 1337 dengan candra senkala: Sabda Tiga Wedha Isyara. Munculnya Pemerintahan Kabupaten Rembang Pada mulanya asal nama Kabupaten Rembang sebagai kota atau wilayah masih belum dapat dibuktikan dengan tepat, hal ini disebabkan karena sumber - sumber atau bukti - bukti tertulis yang menceritakan tentang Rembang atau aktifitas kotanya belum ditemukan. Salah satu sumber yang berasal dari penuturan cerita secara turun menurun dan ditulis oleh Mbah Guru disebut bahwa nama Rembang berasal dari Ngrembang yang berarti membabat tebu . Dari kata Ngrembang inilah dijadikan nama kota Rembang hingga saat ini. Munculnya Pemerintahan Kabupaten Rembang pada masa Kolonial Belanda berkaitan erat sebagai akibat dari perang Pacinan. Terjadinya perang Pacinan pada waktu itu akibat dari peraturan dan tindakan sewenang-wenang dari orang Belanda (VOC) di Batavia pada tahun 1741 yang kemudian meluas hampir keseluruh Jawa termasuk Jawa Tengah. Pada tahun 1741 pertempuran meletus di Rembang di bawah pimpinan Pajang. Pada waktu itu kota Rembang dikepung selama satu bulan dan Garnisun kompeni yang ada di kota Rembang tidak mampu menghadapi pemberontak . Rakyat Rembang dibawah pemerintahan Anggajaya dengan semboyan perang suci dengan perlawanan luar biasa akhirnya dapat menghancurkan Garnisun Kompeni. Sehingga pada tanggal 27 Juli 1741 ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Rembang. Dengan Suryo Sengkala "SUDIRO AKARYO KASWARENG JAGAD" yang artinya : Keberanian Membuat Termasyur di Dunia. Masjid Agung Rembang dan Komplek Maqam Adipati Rembang Berada di kawasan yang menyatu dengan rumah dinas Bupati, alun-alun, dan terminal. Termasuk bangunan cagar budaya, dibangun tahun 1814 M oleh Adipati Condrodiningrat. Masjid ini telah mengalami 6 kali pemugaran, tetapi bangunan induk masih dijaga keasliannya. Di belakang masjid ini terdapat makam para Adipati Rembang diantaranya makam Adipati Sedolaut (tahun 1886). Di kawasan ini sangat cocok untuk transit (ishoma), karena berada ditengah kota. Sebagaimana prototipe masjid kuno di Indonesia, kawasan masjid juga selalu menjadi kompleks pemakaman. Di belakang masjid (sebelah barat) terdapat bangunan cungkup dengan model arsitektur Eropa yang cukup megah. Dengan ketinggian batur sekitar satu meter, bangunan cungkup ini berbentuk segi delapan yang berpusat pada lima buah makam yang ada di dalamnya. Kompleks makam ini terkenal dengan sebutan makam pangeran sedo laut, meskipun didalamnya terdapat paling tidak lima buah makam. Secara berjajar dari barat ke timur makam-makam tersebut adalah : 1. Makam Adipati Condrodiningrat dengan menggunakan jirat dari semen dan nisan berbentuk kurawal yang terbuat dari batu putih. Makam ini berangka tahun 1289 Hijriyah. 2. Makam istri Adipati Condrodiningrat dengan jirat dan nisan yang hampir sama dengan makam suaminya. Nisan ini berangka tahun 1291 Hijriyah. 3. Makam Raden Tumenggung Pratiktoningrat atau Kanjeng Pangeran Sedo Laut dengan jirat yang terbuat dari susunan bata dan nisan yang sudah terbuat dari semen. Pada nisan terdapat angka tahun 1757 menurut angka tahun jawa atau 1831 Masehi. 4. Makam istri Kanjeng Pangeran Sedo Laut dengan jirat dan nisan yang hampir sama dengan suaminya. Hanya saja paa makam ini tidak bisa ditemukan angka tahun. 5. Makam istri Patih Pati, yaitu Raden Ayu Sasmoyo dengan jirat dan nisan yang hampir sama dengan makam ke-3 dan ke-4 dengan tanpa angka tahun.
Add to Cart
Dumbeg

Dumbeg

$1.00
Dumbeg, Jajanan Tradisional Khas Rembang Pernahkah Anda menyantap jajanan dumbeg? Saat menyantapnya, dijamin lidah Anda akan terus bergoyang sambil merem melek menikmati kelezatannya yang khas. Dumbeg merupakan jajanan khas Rembang yang sudah masyhur. Biasanya, jajanan ini hanya tersedia pada saat acara sakral digelar seperti tasyakuran sedekah bumi maupun sepasar manten. Namun belakangan, karena banyaknya permintaan, jajanan dumbeg menjadi salah satu jajanan yang mudah didapat di pasar-pasar tradisional. Makanan ini terbuat dari tepung nasi yang dibumbui dengan gula kelapa yang kemudian dibungkus menggunakan daun bogor (lontar) dengan cara dililitkan menyerupai kerucut. Dumbeg rasanya sangat khas. Namun yang paling menarik adalah aroma pembungkusnya yang terbuat dari daun lontar. Karena mengalami proses pemanasan, maka bau lontar tersebut meresap ke dalam makanan. Hal ini menimbulkan aroma yang khas. Bahan dasar dumbeg terdiri dari tepung beras, gula pasir/gula aren dan ditambahkan garam serta air pohon nira (legen). Namun, banyak juga yang ditaburi buah nangka/kelapa muda yang dipotong sebesar dadu untuk pelengkap dan variasi rasa. Dumbeg Rembang yang paling lezat kebanyakan berasal dari dari sebagian besar desa di wilayah Kecamatan Sulang, Desa Pohlandak, Kecamatan Pancur dan Desa Mondoteko, Kecamatan Rembang. Tidak berlebihan jika di daerah-daerah tersebut menjadi sentra jajanan dumbeg yang mempunyai kekhasan masing-masing.
Add to Cart
Lontong Tuyuhan

Lontong Tuyuhan

$0,2
Lontong tuyuhan Lontong Tuyuhan merupakan salah satu makanan khas yang berasal dari Desa Tuyuhan dan hanya bisa kita temukan di desa tersebut. Malah ada beberapa warga Lasem yang mengatakan belum ke Lasem namanya kalau belum mencoba Lontong Tuyuhan. Secara administratif, Desa Tuyuhan masuk ke dalam kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang, tapi kebanyakan orang lebih akrab dengan Kota Lasem sebagai tempat dimana Desa Tuyuhan berada. Dulunya para penjual lontong tuyuhan ini hanya menjajakan dagangannya dengan membuka lapak kecil di tepi jalan Desa Tuyuhan dan berada dibeberapa titik tertentu. Hingga sekitar tahun 2003, ada sebuah brand produk minuman yang bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat untuk mengumpulkan para pedagang tersebut dalam sebuah sentra makan yang bernama “Sentra Lontong Tuyuhan”.
Add to Cart
Sirup Kawista

Sirup Kawista

$40.00
Syrup Kawista Sirup Kawista Dewa Burung Kemasan isi 2 botol @ 575 ml. Sirup Kawista atau Sirup Kawis disajikan dengan segelas air dingin setelah dikocok terlebih dahulu, bila diminum maka anda akan merasakan kesegaran eksotisnya java cola. Buah Kawista atau Kawis mungkin kurang begitu populer oleh telinga kita dibanding dengan buah-buah lainnya. Di beberapa daerah di Jawa biasa disebut sebagai Kawis sedangkan di Bali pohon ini dinamakan Kusta. Tanaman bernama ilmiah (binomial) Limonia acidissima ini dikenal sebagai Indian Woodapple atau Elephant Apple. Pohon penghasil buah eksotis ini mulai jarang ditemukan vegetasinya. Identik dengan kota Rembang yang beriklim kering, pohon Kawista atau Kawis ternyata mampu tumbuh di daerah ini yang bertanah kering meskipun sebenarnya pohon Kawista ini berasal dari India bagian selatan Buah Kawista berbentuk bulat, berkulit keras dan bersisik, dan berwarna coklat putih. Buah Kawista yang telah cukup masak akan jatuh dengan sendirinya. Buah yang masak daging buahnya berbau harum berwarna coklat kehitaman. Karena kulit buahnya yang keras, meskipun jatuh buah ini tidak akan rusak. Buah Kawista yang telah jatuh masak dapat dinikmati langsung, dengan memecah kulitnya dan menambahkan sedikit gula pada daging buahnya atau dibuat jus. Buah Kawista selain rasanya yang nikmat, juga memiliki beberapa manfaat untuk kesehatan. Buah Kawista yang matang dipercaya mampu menjadi obat menurunkan panas dan sakit perut serta dimanfaatkan sebagai tonikum untuk asupan penambah stamina.
Add to Cart
Emping Jagung

Emping Jagung

$2.00
EMPING JAGUNG Emping Jagung adalah salah satu Oleh oleh khas dari kecamatan pamotan kabupaten rembang jawa tengah. Nama Pamotan adalah sebuah Daerah di kabupaten renbang tepatnya di sebelah timur rembang. Emping jagung adalah salah satu makanan ringan khas pamotan yang rasanya gurih dan nikmat, selain itu juga pamotan ini terkenal juga dengan daerah jobong gamping. Desa Pamotan, Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang, dengan luas wilayah 1.077.247 ha memiliki potensi utama di bidang pertanian, yaitu sebagai desa lumbung padi, selain jagung dan palawija. Potensi tersebut juga didukung oleh potensi lain, yaitu pengolahan hasil pertanian yang dimiliki sebagian masyarakat Pamotan. Secagai contok kecilnya adalah home industry berupa usaha makanan ringan, yang antara lain adalah Emping Jagung, Keripik Tempe, Keripik Singkong, Mete, dan Keripik Talas. Akan tetapi, potensi yang dimiliki oleh masyakarat di Kecamatan Pamotan selama ini belum didukung oleh Teknologi Tepat Guna (TTG), khususnya yang berkaitan dengan pengemasan produk hasil olahan. Rata–rata, para pengrajin/pengusaha tidak memerhatikan kemasan hasil usaha/kerajinannya. Padahal, masalah kemasan berkaitan erat dengan pemasaran, yang sangat menentukan keberhasilan sebuah usaha. Oleh karena itu, melalui Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan, dan Keluarga Berencana (BPMPKB), POSYANTEK “KARYA GEMILANG” Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang, mengusulkan diadakannya Pelatihan Teknik Sablon untuk Membuat Kemasan Produk Hasil Olahan. Alhasil, pada Kamis, 16 Juni 2011 lalu, POSYANTEK KARYA GEMILANG PAMOTAN mengadakan “Pelatihan Penyablonan” sebagaimana yang diusulkan. Tujuan diadakannya pelatihan tersebut adalah untuk: Meningkatkan nilai jual produk-produk yang sudah ada. Membuka peluang lapangan pekejaan. Mengurangi kemiskinan dan angka penangguran. Mendukung percepatan pemasyarakatan dan penguasaan tekhnologi tepat guna. Pelatihan yang telah sukses dilansakanakan itu diikuti oleh beberapa kelompok binaan Posyantek Karya Gemilang Pamotan, termasuk perwakilan dari berbagai komponen organisasi masyarakat, karang taruna, dan perwakilan dari pelajar. Setelah pelatihan tersebut diadakan, peserta diharapkan mampu mempraktikkan teknik-teknik penyablonan sendiri untuk mendukung pemasaran produk/kerajinan mereka. Bagi anda yang menginginkan Emping Jagung Khas Pamotan ini silahkan anda datang langsung ke pamotan atau bisa hubungi pembuatnya langsung.
Add to Cart
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Rembang Bangkit - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger